Beranda | Artikel
Adab Dalam Menerima Dan Menyebar Berita
Sabtu, 22 Juli 2017

Dalam menerima dan menebar berita, Al Qur’an dan hadits telah memberikan kepada kita rambu rambu yang amat penting agar tidak menimbulkan kerugian yang besar.

Dalam menerima berita, Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, “Termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari orang kafir hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asal-asalan diterima akhirnya menjadi penyesalan. (Taisir Karimirrohman)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5).

Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadits di atas pada Shahih Muslim dalam judul Bab “Larangan membicarakan semua yang didengar.”

Dalam menebar berita, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا (83)

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)” (An Nisaa: 83).

Syaikh Abdurrahman Assa’diy rahimahullah menafsirkan surat An Nisaa: 83.

Beliau berkata:

“Ini adalah adab dari Allah untuk hamba hambaNya.. Apabila datang perkara yang penting.. yang berhubungan dengan keamanan dan kegembiraan kaum muslimin.. Atau ketakutan yang ada padanya musibah untuk mereka.. Agar memeriksa dengan teliti..

Dan jangan tergesa gesa menyebarkannya.. Tetapi hendaklah mereka mengembalikan kepada rosul.. Dan kepada alim ulama.. Yang amat memahami kemashlahatan dan mudlaratnya.. Jika mereka memandang mashlahat untuk disebarkan.. Memberikan kegembiraan kepada kaum muslimin dan terlindung dari musuh mereka.. Mereka lakukan.. Namun jika memandang mudlaratnya lebih besar.. Mereka tidak menyebarkan..” (Taisir karimirrohman hal 154).


Artikel asli: https://cintasunnah.com/adab-dalam-menerima-dan-menyebar-berita/